Minggu, 15 Maret 2009

PR SCTV BERBAGI ILMU DENGAN MAHASISWA UPN ‘VETERAN’ YOGYAKARTA

Yogyakarta, 14/3 (womenscapucini) – Tuntutan perkembangan teknologi komunikasi dan informasi, menjadikan Universitas Pembangunan Nasional ‘Veteran’ Yogyakarta akan segera membuka jurusan baru yakni jurusan Broadcasting. Demi mencapai tujuan tersebut, UPN ‘Veteran’ Yogyakarta merangkul SCTV untuk berbagi ilmu dengan para mahasiswa. UPN mengadakan suatu dialog terbuka dengan pihak SCTV (14/3). Acara yang bertajuk “TELEVISI : PROGRAM DAN PERKEMBANGANNYA” tersebut dinarasumberi oleh Budi Darmawan, Public Relation PT. Surya Citra Televisi.
Dialog terbuka ini memberikan tambahan ilmu baru bagi para mahasiswa, khususnya dalam bidang Broadcasting. Dari dialog ini dapat diketahui mengenai seluk-beluk dunia broadcasting, baik dari genre program maupun berbagai profesi dan tanggung jawabnya dalam dunia broadcast. Melalui dialog ini, diharapkan mahasiswa UPN ‘Veteran’ Yogyakarta mampu membuka cakrawala baru sebagai titik awal pembentukan jurusan Broadcasting di UPN ‘Veteran’ Yogyakarta.
(AF)

Rabu, 11 Maret 2009

Talkshow Jurnalistik “Jurnalisme Infotainment, Berita ataukah Hiburan Semata?”

Yogyakarta, 11/3 (womenscapucini)Communication Freak merupakan acara yang diadakan oleh mahasiswa-mahasiswa komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta setiap tahunnya. Pada kesempatan kali ini, Communication Freak menyelenggarakan talkshow sebagai salah satu event yang ada di dalamnya. Pada tanggal 10 Maret 2009 pukul 10.00 – 13.00 WIB diadakan sebuah talkshow yang membahas tentang dunia jurnalistik dengan tema “Jurnalisme Infotainment, Berita ataukah Hiburan Semata?”. Tema tersebut diangkat dikarenakan program infotainment merupakan salah satu program yang sedang menjamur di dunia pertelevisian pada saat ini. Talkshow tersebut diadakan di Ruang Seminar Kampus II Babarsari UPN “Veteran” Yogyakarta.
Sasa Djuarsa Sendjaja yang menjabat sebagai Ketua KPPI menjadi salah satu narasumber dalam talkshow tersebut. Lelaki yang akrab disapa dengan Pak Sasa ini menjelaskan secara panjang lebar mengenai apa saja tugas KPPI yang sebenarnya. Pak Sasa mengungkapkan bahwa KPPI selalu memantau program-program yang ditayangkan oleh televisi-televisi selama 24 jam. Apabila ada stasiun televisi yang melanggar aturan-aturan yang penyiaran telah ditetapkan, maka KPPI tidak segan-segan untuk menegur atau bahkan memberikan sanksi tegas bagi yang melanggarnya Dengan kata lain, KPPI memegang peranan penting dalam mengontrol program-program yang ditayangkan di stasiun-stasiun televisi di indonesia.
Dalam talkshow tersebut juga menghadirkan narasumber lainnya, yaitu Bapak Raldy Doy sebagai Corporate Communication TV One. Beliau menjelaskan bahwa setiap orang membutuhkan berita dan televisi sebagai salah satu medianya diharuskan menyampaikan kebenaran yang ada., tetapi setiap media mempunyai batasan dalam menyampaikannya. Tidak hanya itu saja, beliau juga memberikan berbagai informasi tentang TV One. Dari sejarah berdirinya hingga program-program yang ada di TV One juga beliau sebutkan. TV One merupakan televisi yang lebih terfokus pada berita dan sport. TV One merupakan salah satu dari tiga stasiun televisi yang jarang sekali melanggar aturan-aturan KPPI, hal tersebut dikatakan sendiri oleh Pak Sasa selaku Ketua KPPI. Hal yang paling membahagiakan bagi para peserta talkshow ini adalah adanya kuis dadakan yang diadakan oleh Bapak Raldy sebagai perwakilan dari pihak TV One. TV One memberikan merchandise bagi peserta yang mampu menjawab pertanyaan yang diajukan seputar TV One.
Sebagai satu-satunya narasumber wanita dalam talkshow ini, Erica Andriarini sebagai Executive Produser Pelaksana infotainment Silet yang ditayangkan RCTI justru menghebohkan acara tersebut. Beliau mengungkapkan bahwa infotainment dapat mencerdaskan bangsa. Hal tersebut bertolak belakang dengan kenyataan yang ada, oleh karena itu pada sesi tanya jawab beliaulah yang paling sering mendapat pertanyaan dan kritikan dari para peserta. Tetapi dengan sangat bijaksana beliau dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan serta menanggapi kritikan yang ada.
Sebagai penutup talkshow tersebut, diadakan game berhadiah bagi para peserta. Dengan akhir yang memuaskan, pada intinya dapat disimpulkan bahwa infotainment dapat berfungsi sebagai berita atau hiburan tergantung dari kontentnya.

Diposting oleh : Anis Marlina Wijayanti / 153070056

KPI : ketika infotaiment berada di posisi "yelllow Jurnalism"

Yogyakarta, 11/3 (womenscapucini) - infotaiment di Indonesia, tiga tahun terakhir mengalami booming yang cukup drastis. ketika privacy menjadi santapan publik, ketika aib menjadi bukan hal yang memalukan lagi, namun infotaiment justru lebih bisa menyajikan investigasi lebih daripada berita jurnalisme secara cepat dan akurat.
Mengapa hal tersebut bisa terjadi? semua ini didikusikan dalam Talkshow Jurnalistik UPN " veteran " yagyakarta yang bertemakan "Jurnalisme Infotaiment, Berita ataukah Hiburan Semata?" pada tanggal 10/3. talkshow yang bernarasumber Sasa Djuarsa S. selaku ketua KPI, Raldy Doy selak Corporate Communicatio TV One dan Erika Andriani selak ex. Produser Pelaksana Silet RCTI bersama mahsiswa UPN dan mahasiswa perguruan swasta lainnya berdiskusi selama tiga jam.
Sasa D.S mengatakan bahwa KPI hanya menjadi kontrol hukum dari program - program acara di televisi, maka KPI berusaha melihat sudut pandang, mana yang disebut jurnalism atau yellow jurnalism atau jurnalisme rendahan, begitu ujarnya.
lain halnya dengan erika, ia mengatakan bahwa infotaitment merupakan sebuah investigasi dan lebh mencerdaskan masyarakat karena masyarakat dianggap dapat mengambil pelajaran dari apa yang terjadi.
padahal menurut Raldy Doy mewakili Tv One yang lebih condong ke arah news dan berita sport mengatakan bahwa infotaiment sebenarnya hanya sebuah hiburan. tv seharusnya menjadi pendidik bagi masyarakat dan infotaiment merupakan contoh pembodohan masyarakat atas berita yang disajikan.
apapun pendapat para ahli, semestinya televisi hanyalah berfungsi sebagai penghibur masyarakat, jikalau acara televisi dianggap tak layak di tayangkan sebaiknya masyarakat melakukan filterisasi yang kuat terhadap tayangan televisi karena kita tahu bahwa televisi dapat menciptakan gaya hidup masyarakat apapun itu bentuknya.(ayu fanika/055)

Selasa, 10 Maret 2009

AKHIR MASA TRANSMISI TV ANALOG

Yogyakarta, 2/3 (womenscapucini) – Era transmisi TV analog akan segera berakhir. Itulah inti hotnews lini komunikasi saat ini. Transisi format dari analog ke dalam format digital tengah hangat diperbincangkan kembali.
Format transmisi TV digital ini diharapkan dapat menggantikan format analog lama dengan baik. Karena dengan menggunakan format digital, saluran televisi akan semakin banyak. Selain itu, gambar yang dihasilkan oleh format digital jauh lebih baik daripada format analog, tidak ‘semutan’ , tidak berbayang, dan tahan terhadap segala cuaca. Hal ini diharapkan mampu mendongkrak bidang komunikasi dan pertelevisian tanah air serta memberikan pilihan program televisi yang lebih beragam kepada masyarakat.
Wacana transisi format analog ke digital ini akan segera direalisasikan oleh pemerintah. Akan tetapi proses perpindahan tersebut akan dilakukan secara berkala, dimulai dari kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan, dsb. Diharapkan pada tahun 2013, Indonesia telah mencapai 100% dalam penggunaan transmisi TV digital.
(AF)

JURNALISME INFOTAIMENT, BERITA ATAUKAH HIBURAN SEMATA ; Talkshow yang Bagaikan Pengadilan bagi Program Acara Infotaiment

Yogyakarta, 10/3 (womenscapucini ) – Talkshow jurnalistik bertajuk “Jurnalisme Infotaiment, Berita ataukah Hiburan Semata” di ruang seminar kampus II Babarsari UPN “Veteran” Yogyakarta mampu menyedot perhatian pesertanya. Sasa Djuarsa Sendjaja (Ketua KPI), Raldy Doy (Coorporate Communication TV One), Erika Andriarini (ex Produser Pelaksana Silet RCTI) yang didaulat sebagai narasumber dalam acara tersebut mampu mendatangkan nuansa talkshow yang hangat dan komunikatif.
Acara yang diadakan oleh HIMAKOM UPN “Veteran” Yogyakarta ini awalnya dibuka dengan kuliah singkat oleh Sasa Djuarsa Sendjaja mengenai Jurnalisme Program Infotaiment. Dalam kuliah singkatnya tersebut, Sasa Djuarsa menyebut infotaiment sebagai “yellow journalism” atau lebih kita kenal sebagai jurnalisme rendahan. Hal ini tentu saja mengundang gelak tawa seluruh pesertanya, terlebih salah satu narasumber dalam acara tersebut adalah Erika Andriarini, ex Produser Pelaksanan Silet RCTI. Pembelaan pun diluncurkan oleh Erika, “Infotaiment dicaci tapi juga disukai. Dalam hati saya sendiri sampai sekarang masih bergejolak”. Berbeda dengan kedua narasumber lain, Raldy Doy, Coorporate Communication TV One ini memilih jalan tengah. Menurutnya, station TV saat ini sangat berperan dalam mendidik dan membentuk persepsi publik. Hal ini dikarenakan TV memiliki kekuatan dramatisasi yang sangat kuat. Oleh karena itu, TV One lebih mengspesialisasikan diri dalam program news and sports.
Pengadilan bagi program acara infotaiment tidak hanya diajukan oleh narasumber saja. Beberapa peserta yang mengajukan pertanyaan dan pernyataannya juga ikut mengadili infotaiment bahkan KPI. Salah satu peserta talkshow ini mengajukan pernyataan dengan mengutip kuliah singkat Sasa Djuarsa. “Bapak Sasa tadi telah mengungkapkan bahwa terdapat ‘Tujuh Dosa Infotaiment’ , kalau sudah tahu dosa kenapa program acara infotaiment masih dibiarkan saja?”.
(AF)

diposting oleh: Amalia Fitriyani (153070097)

Rabu, 25 Februari 2009

Pameran Foto " Ilustrasi Puisi Chairil Anwar"

Yogyakarta (womenscapucini) - (14-28/02) Terselenggara sebuah pameran foto yang bertempat di Mess 56 dengan tema “ Ilustrasi Puisi Chairil Anwar” . Pameran tersebut terselenggara berkat kerja sama antara komunitas pecinta fotografi UPN “Veteran” Yogyakarta yaitu FOTKOM dengan Mess 56 yang berperan sebagai wadah dari pameran foto ini.
Pameran foto yang mengangkat tema-tema dari Chairil Anwar, seorang tokoh pembuat puisi yang terkemuka tersebut terselenggara karena para anggota FOTKOM ingin mencari suasana baru dalam membuat foto jurnalistik. Pameran foto tersebut memiliki konsep yang benar-benar matang sehingga menjadikan pameran foto kali ini berbeda dengan pameran-pameran sebelumnya yang pernah dibuat oleh FOTKOM.
Penyelenggaraan pameran foto tersebut pun mendapatkan respon baik dari berbagai pihak. Bayangkan saja, pada awal pembukaan pameran tersebut, lebih dari 200 orang mengunjungi pameran tersebut . Para pengunjung merasa ingin tau tentang tema yang diangkat oleh para penyelenggara, sehingga hal tersebut memacu partisipasi mereka untuk hadir dalam pameran itu. Tidak hanya itu, banyak media yang berdatangan ke Mess 56 untuk meliput acara tersebut. Media-media tersebut antara lain Kedaulatan Rakyat, Koran Sindo, Harian Jogja, Jogja TV, serta media-media lainnya. Pengunjung yang datang ke pameran tersebut berasal dari berbagai macam wilayah, pengunjung yang berasal dari luar Yogyakarta, seperti dari Bandung, bahkan ada yang datang dari luar Indonesia, seperti Belanda, Singapure, dan Australia.
Pameran foto ini memberikan penawaran baru tentang puisi-puisi yang dibuat oleh Chairil Anwar, pameran foto ini mengenalkan berbagai puisi yang dibuat oleh Chairil Anwar, sehingga masyarakat dapat lebih mengetahui puisi-puisi yang dibuat oleh beliau. Dengan kata lain, pameran foto ini mengenalkan kita sisi-sisi lain dari Chairil Anwar.
FOTKOM mengambil puisi Chairil Anwar sebagai tema karena beliau merupakan pembuat puisi yang sudah banyak dikenal oleh masyarakat sehingga mudah untuk melakukan follow up. Untuk sementara ini Kota Yogyakarta dipilih sebagai tempat penyelenggaraan pameran foto tersebut karena unsur kedekatan, tetapi FOTKOM juga mempunyai rencana untuk menyelenggarakannya di Jakarta.
Dapat terselenggaranya pameran foto ini tidak lepas dari persiapan matang yang mereka lakukan, mereka mempersiapkan pameran foto ini dari bulan oktober tahun lalu, sampai-sampai mereka harus melakukan riset terlebih dahulu agar pameran foto ini dapat berjalan sesuai dengan apa yang mereka harapkan, dan ternyata usaha mereka benar-benar membuahkan hasil. Apresiasi dari masyarakat membuat pengorbanan mereka menjadi lebih berarti.
Yang membuat pameran foto ini berbeda dengan pameran lainnya yaitu foto-foto yang ditampilkan tidak hanya foto-foto cetak saja, tetapi ada instalasi serta animasi. Sehingga pameran ini tidak berkesan monoton seperti pameran foto lainnya. Selain itu terselenggaranya pameran ini bertepatan dengan Peringatan Hari Kasih Sayang yang biasa kita kenal dengan Vallentine Day’s yang sesuai dengan tema yang mereka angkat. Tidak hanya itu, pameran ini diiringi DJ sehingga pameran ini terlihat lebih menarik.
Kaitannya puisi dengan gambar yang diambil merupakan sebuah kesepakatan dari para penyelenggara yang bergerak mendalami ilmu komunikasi sehingga pameran tersebut dapat dilihat dari segi yang sederhana. Contohnya saja, pada hasil karya Sigit yang mengangkat judul “Bercerai” tersebut mengambil gambar air dan minyak yang bercerai atau tidak dapat menyatu satu sama lain serta dapat kita lihat padakarya-karya lainnya.
Pesan yang disampaikan dari pameran foto ini agar masyarakat berani untuk mengeksplore kemampuan fotografi mereka. Selain itu, puisi akan lebih menarik jika disertai dengan karya fotografi. Dengan adanya pameran foto tersebut masyarakat yang menyukai fotografi diharapkan agar mau bereksperimen dengan kemampuannya.

Selasa, 24 Februari 2009

SLUMDOG MILLIONAIRE JADI RAJA OSCAR 2009

Yogyakarta (womenscapucini) - Pergelaran besar seperti Oscar, Minggu (22/02) malam atau Senin (23/02) pagi WIB pasti memberikan kesan mendalam dan kejutan-kejutan yang spektakuler. Salah satunya adalah ‘Slumdog Millionaire’ yang menjadi raja pada malam Academy Awards ke-81 yang megah itu. Film yang menceritakan kisah seorang remaja India yang memenangkan uang senilai 20 juta rupee dalam acara WHO WANTS TO BE A MILLIONAIRE? ini tak tanggung-tanggung memboyong 8 piala Oscar sekaligus.
‘Slumdog Millionaire’ bukanlah film yang diunggulkan sebelumnya, bahkan tidak dibayangkan akan mengalahkan ‘The Curious Case of Benjamin Button’ ; ‘Frost/Nixon’ ; ‘Milk’ ; dan ‘The Reader’. Terlebih, pemainnya tidak ada satu pun yang berasal dari artis kelas A Hollywood. Meskipun demikian, film garapan Danny Boyle ini memang pantas menang, mengingat alur cerita yang sangat menyentuh dan sangat dekat dengan kehidupan nyata.
(AF)

Para Peraih Piala Oscar 2009
Film Terbaik : ‘Slumdog Millionaire’
Aktor Terbaik : Sean Penn - ‘Milk’
Aktris Terbaik : Kate Winslet - ‘The Reader’
Aktor Pemeran Pembantu Terbaik : Heath Ledger – ‘The Dark Knight’
Aktris Pemeran Pembantu Terbaik : Penelope Cruz – ‘Vicky Cristina Barcelona’
Sutradara Terbaik : Danny Boyle – ‘Slumdog Millionaire’
Adapted Screenplay : Simon Beaufoi – ‘Slumdog Millionaire’
Original Screenplay : Dustin Lance Black - ‘Milk”
Film Animasi Terbaik : ‘Wall-E’
Film Dokumen Terbaik : ‘Man on Wire’
Film Berbahasa Asing Terbaik : ‘Departures’ - Japan
Achievement in Art Direction : ‘The Curious Case of Benjamin Button’
Sinematografi Terbaik : Anthony Dod Mantle - ‘Slumdog Millionaire’
Perancang Busana Terbaik : Michael O’Connor – ‘The Duchess’
Editing Terbaik : Chris Dickens - ‘Slumdog Millionaire’
Tata Rias Terbaik : Greg Cannom – ‘The Curious Case of Benjamin Button’
Original Score : A.R. Rahman - ‘Slumdog Millionaire’
Original Song : ‘Jai Ho’ (Slumdog Millionaire)
Sound Editing : Richard King – ‘The Dark Knight’
Sound Mixing : ‘Slumdog Millionaire’
Visual Effects : ‘The Curious Case of Benjamin Button’
Film Dokumentasi Pendek Terbaik : ‘Smile Pink!’
Film Animasi Terpendek : ‘La Maison en Petits Cubes’
(doc. KR)